…BERSAMBUNG…(I)

Nilai perjuangan yang terkadang dilupakan oleh si Penerus. Pewaris tidak pernah berpikir kalau sewaktu – waktu warisanya akan diterjang badai globalisasi zaman, atau istilah yang sering dipakai “zaman now”. Tidak bermaksud mengkapitalisasi diri sang pewaris, wujud nyata akan jiwa heroik perlu di Implementasikan sang penerus. Nilai Toleransi, gotong – royong, keadilan, dan kerakyatan perlu dipertahankan. Nilai ini mutlak bagi setiap manusia meski beda zaman. “Zaman berubah dan kitapun turut berubah didalamnya”. Tapi bukan untuk Nilai kemanusiaan.
Nilai kebebasan berekspresi dikibarkan seturut perintah Undang – Undang, bebas menyampaikan pendapat didepan umum. Kebebasan bukan berarti leluasa memainkan ide yang kerap kali bablas, menyebar hoax, menjual isu provokatif, ujaran – ujaran kebencian, praktif prostitusi online dan masih banyak deretan degradasi moral menghiasi beranda layar kaca. Sang penguasa dengan leluasa memainkan peran, korupsi pada setiap instansi yang membudaya di Rahim Ibu Pertiwi. Hotel layak huni – hotel Pordeo menjadi hunian kekal bagi sang koruptor yang selalu tersenyum di kursi pesakitan, menanti upah ketukan Palu.

Kebebasan yang bablas sedang dimainkan pemuda sebagai aktor utama.Yang katanya seturut kehendak “Zaman Now”. Eksplorasi diri jadi tayangan tayangan utama dengan durasi 30 detik. Ruang – ruang publik menjadi konsumsi khalayak ramai, bablas dalam membedakan ruang privat dan ruang publik. Terpuaskan akan euforia dengan predikat Netizen. Migrasi status dari warga penduduk ( WP ) ke warganet ( WN ) hanya bermodalkan Android dengan kemudi jempolan jari. Persentase aktivitas pasca migrasi 90% WN : 10% WP, ibarat gelombang pantai utara versus selatan.
Implementasi Nilai – nilai Pancasila menunjukkan pada titik kelemahan. Terbawa gelombang ” Jaman Now”. Membunuh karakter bangsa jika tak sanggup melawan gelombang. Pasang surut nilai kemanusiaan menjadi hiasan etalase. Mengejar jumlah like dan komentar pada kolom beranda, popularitas jadi tema utama dengan berbagai mode fashion show. Lupa akan segala nilai Kemanusiaan yang beradab. Kebiadaban ditunjukkan dengan praktik perdagangan orang, menjual manusia untuk dijadikan tumbal sang majikan. Peti mati siap mendarat bebas dibandara, lalu mulai disebarkan via media online. Lagi – lagi jadi topik utama Netizen kalangan muda, hanya mampu share tanpa membaca isi, apa penyebabnya. Generasi klik kian membabi buta menggerakkan jari jempolnya dengan kepala sedikit tunduk biar terlihat serius, dahi sedikit berkerut. Gelarpun diraih dengan sebutan ” Generasi Tunduk”. Mengejar gelar ala Netizen, lantaran siapakah yang memberikan gelar tersebut!!!

Upaya memperebutkan Gelar Bangsawan, kini sedang dipertontonkan oleh elit Demokrasi pasca penetapan KPU yang memenangkan Pasangan Nomor urut satu, Jokowi – Ma’aruf Amin menuai protes oleh orang – orang yang katanya ” keberatan”. Alhasil massa turun kejalan membawa bendera kebebasan berpendapat didepan umum dengan gagah perkasa, bertelanjang dada siap menembus pagar – pagar kawat berduri. Dengan lantang massa aksi menyerbu titik target, namun lagi – lagi dihadang gas air mata yang menghasilkan lemparan batu – batu. Disudut – sudut terlihat si Jago Merah dengan lahap menari – nari bersama roda empat.
Hiruk – pikuk aksi dan reaksi berujung pada kehilangan nyawa. Mungkin terbunuh, membunuh, bunuh diri! oleh sebab – musabab perebutan kekuasaan. Masing – masing kubu berkompetisi melalui pemilihan secara langsung oleh pemilih. KPU hadir sebagai wasit siap memutuskan siapa sang pemenenang. Gong “PILKADA DAMAI” hanyalah Simfoni belaka. Lantaran KPU hanya menjalankan tugas sebagai Panitia Pemilihan, tak pedulikan soal “lain”. Demikianlah konsekuensi logis alam demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Rakyat jadi tumbal Demokrasi.
Mungkinkah rakyat bertanggungjawab atas dirinya sendiri? bukanya Vox Populi Vox Dei? atau hanya menjadi mantera bagi para politisi tatkala hadir ketika musim hujan, kemarau bahkan musim Politik. Pesta Monster – monster Politik yang tak beradab. Bertopeng senyum dan janji – janji manis politik saat kampanye dengan gelora ; kesejahtera rakyat, masa depan bangsa yang lebih baik, NKRI harga mati, perbaikan ekonomi kerakyatan, dan ” MENGAJAK PEMILU DAMAI “. Tapi kini seolah – olah rakyat diadudomba. Mungkinkah Rakyat Versus KPU? Rakyat Versus Aparat? Ataukah Rakyat Versus Rakya

Rakyat dibohongi, sebelum dan sesudah pesta rakyat, pesta Demokrasi. Orang mulai jalan dari satu rumah ke rumah yang lain menawarkan barang dagangan. Pokok pikiran mulai ditawarkan. Pokok Pikiran ( POKIR ) adalah istilah dalam dunia perdagangan, penjual dan pembeli bertemu disana. Pasar kaget 5 tahun ini penuh akan permintaan dan penawaran sampai lupa Pikiran Pokok. Pokir DPRD adalah kado indah untuk wakil Rakyat. mereka tak mampu berbuat apa – apa, “Pikiran Pokok” mereka hanya untung dan rugi. Mereka pun mendapat gelar unik “Pedagang Suara”, sedikit berbeda dengan perdagangan orang. Berbagai macam tunjangan didapatkan dengan perlindungan “aturan” dan lain sebagainya. Persaingan sesama pedagang suara ini, tak mengenal latar belakang apapun. Keluarga sekalipun saling memangsa, saling menjual, yang kata – NYA bagian dari seni ber – demo – krasi. Hukum dagang telah diterapkan, dari, oleh dan untuk. Cinta segitiga menghasilkan laba demonstrasi.
Oleh karenanya setiap kita wajib tunduk pada regulasi hasil bincang – bincang para elit. Tekan sana – sini membangun dinasti kepentingan. Dengan malu – malu mengucapkan sumpah pada rakyat bertopeng cinta pembangunan yang kini semakin dirasakan absennya niat suci. Kantong – kantong celana penuh dengan janji palsu yang akhirnya meluap pada selokan jalan. Praktik balas jasa siap dikumandangkan untuk melunasi hutang suara pada celengan kotak uang bandar. Judi kaum elit bermodalkan Undang – undang jadi taruhan. Barter regulasi akan investasi yang berkedok pada pembangunan infrastruktur, kemajuan ekonomi, menjadi nilai jual dibalik meja kehormatan. Dengan ketukan palu kata sepakat.

Kembalikan Roh Demokrasi berasaskan Pancasila, yang bukan hanya slogan atau bincang – bincang dibalik meja redaksi tapi dengan perbuatan. Ataukah dijadikan sebagai lahan Rupiah, pemenuhan suatu program dengan kata Deklarasi. Upaya Deklarasi tak lain adalah Upaya nongkrong, kopi bareng yang hanya memuaskan dahaga para Warga Netizen yang kebal kritik. Perlu dicatat bahwa, Penguasa Alam Demokrasi adalah orang – orang yang setia memperdagangkan kepentingan. Rakyat dibuai dengan slogan cinta damai. Seyogyaianya adalah omong kosong.

………….……………………………………..

“Judy Jaman Now” Cederai PANCASILA ( Pulau Flores Pulau Bunga, Maumere Manis’e )

Dan Oleh karenanya setiap kita wajib tunduk pada regulasi hasil bincang – bincang para elit. Tekan sana – sini membangun dinasti kepentingan. Dengan malu – malu mengucapkan sumpah pada rakyat bertopeng cinta pembangunan yang kini semakin dirasakan absennya niat suci. Kantong – kantong celana penuh dengan janji palsu yang akhirnya meluap pada selokan jalan. Praktik balas jasa siap dikumandangkan untuk melunasi hutang suara pada celengan kotak uang bandar. Judi kaum elit bermodalkan Undang – undang jadi taruhan. Barter regulasi akan investasi yang berkedok pada pembangunan infrastruktur, kemajuan ekonomi, menjadi nilai jual dibalik meja kehormatan. Dengan ketukan palu kata sepakat.

Praktik Pembangunan Yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi telah membawa pada bunuh diri ekologi. Daya dukung lingkungan terlampaui, ditandai dengan trend peningkatan intesitas dan skala bencana. Situasi ini juga memperdalam ketimpangan sosial dan merugikan ekonomi. Analisis mengenai dampak lingkungan yang seharusnya bisa memperhitungkan dan mengendalikan pembangunan dalam praktiknya banyak yang melanggar rencana tata ruang. Lingkungan selalu menjadi pihak yang dikalahkan jika dihadapkan pada kepentingan investasi dan regulasi yang menghasilkan PANSUS MANDUL…tong kosong nyaring bunyinya…Upaya pengelolaan lingkungan dan Upaya pemantauan lingkungan lebih dipandang semata – mata sebagai instrumen perijinan daripada sebagai instrument pengelola lingkungan, UKL/UPL pun masih dipandang sebagai komoditas ekonomi oleh oknum aparatur pemerintah, pemrakarsa, atau konsultan tertentu.
Oleh : Ferdigandus Sabinus Parera, Anggota Aktif PMKRI Cabang Maumere.

Pekarangan Rumah, di Sulap Jadi Bedeng ( KKN MM UNIPA – MAUMERE 2019 )

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Nusa Nipa – Maumere, menanam sayur kangkung pada halaman rumah salah seorang warga di Desa Sikka, Kecamatan Lela menggunakan media tanam bedeng. Bedeng yang berukuran 6 × 2 tersebut sbelumnya dijadikan tempat penyimpana kayu bakar. Dengan bermodal ilmu Agroteknologi, Oel menjelaskan, media tanam bedeng mempunyai keunggulan dari media tanam lainnya. Bedeng mencegah tanaman dari serangan hama dan penyakit dan sebagai media untuk penanaman berbagai macam jenis tanaman budidaya lainya, Jelas Yeremico Yoel Nay.

Bibit Kangkung bermerk Serimpi didatangkan dari Maumere pada salah satu Toko. Sebelum ditanam, dilakukan penggemburan tanah pada bedeng yang telah disiapkan untuk mempermudah proses pemupukan. Pupuk yang digunakan berasal dari kotoran hewan. Dengan menggunakan sepotong kayu dibentuk garis arah memanjang ( arah horisontal ) pada tanah sedalam 2 cm dengan lebar 2 cm sebagai wadah/tempat dimana biji kangkung tersebut ditabur. Bibit kangkung akan bertunas pada hari ke -3. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari, pagi dan Sore. Kangkung dapat dipanen pada hari yang ke – 30 terhitung sejak proses penanaman benih.

Disela – sela kegiatan pembuatan bedeng, rekan Oel, saudara Wil yang juga Mahasiswa Fakultas Pertanian UNIPA – Maumere menyampaiakn rasa terimakasih kepada warga yang rela memberikan halaman rumah untuk dijadikan bedeng sayur kangkung.

Catatan harian,
By : Ama Laga,
Sikka, 30 Mey 2019

“BUKAN KALENG – KALENG” ( Ungkapan Cinta Persaudaraan, “Kita”, BUKAN, ” kami” atau “mereka” )

“Bukan kaleng – kaleng”, istilah yang sering kita dengar ditempat – tempat umum seperti pasar, dijalan umum, pertokoan, disekolah, bahkan dikampus. Rupanya istilah tersebut mempunyai makna positif ketika seseorang meluapkan rasa gembira atas suatu kebersamaan, rasa kekeluargaan dalam nuansa cinta kasih seperti, kumpul bersama disuatu tempat tongkrongan sambil mengerjakan PR, tugas kampus, atau sebatas refresing akhir pekan. Kini, rasa kekeluargaan itu hadir di Desa Sikka dalam suatu acara nonton bersama ( “nonton bareng” ) atas inisiatif Mahasiswa KKN MM – UNIPA Tahun 2019 dengan restu warga setempat, maka digelarlah acara malam Kekeluargaan dalam rajutan nonton bersama.

Mahasiswa KKN MM – UNIPA Maumere Tahun 2019 menggelar acara nonton bareng di Desa Sikka bertempat di halaman Kantor Desa Sikka ( Rabu, 29 Mei 2019 ). Acara tersebut dimulai pada pukul 19.00 – 21.30 Wita yang melibatkan seluruh warga Desa Sikka. Muda -mudi, pelajar tingkat SD dan SMP turut serta dalam acara tersebut.
Dalam sambutan sebelum memulai acara nonton bareng, mewakili Mahasiswa KKN, Don selaku ketua kelompok menyampaikan rasa terimakasih kepada warga yang terlibat aktif dan mendukung penuh acara tersebut. Sekaligus mengajak terkhusus para pelajar untuk terus belajar demi masa depan yang lebih cerah. Pentingnya pendidikan kembali ditegaskan Kades Sikka, beliau mengatakan bahwa dalam menggapai cita – cita butuh perjuangan yang berlandaskan pada pengorbanan. Beliaupun menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam kepada Mahasiswa yang turut berperan dalam mencerdaskan anak bangsa terkhusus pelajar Desa Sikka.

Nonton bareng terlaksana setelah Mahasiswa FKIP dan Ekonomi memperagakan proses pembuatan kripik bayam sekaligus menjadi sajian ( cemilan ). Nonton bareng mengangkat tema pendidikan anak – anak melalui pemutaran Film Laskar Pelangi berdurasi kurang lebih dua jam. Dalam film tersebut menceritakan tentang perjuangan beberapa pelajar dengan gigih mencari ilmu dengan bermodalkan sepeda, tak hiraukan ejekan. Fasilitas gedung sekolah seadanya, dengan dinding papan beratapkan seng karat tak memudarkan rasa. “Kesombongan telah membutakan mata”. “Kesenjangan pendidikan” menjadi point penting dalam adegan film tersebut. Keterbatasan fnansial bukan kendala, justru memacu spirit, cahaya pelita jadi kawan, siap menghadapi tantangan untuk mencapai cita – cita. Kerja keras, dan keras lagi. Kelak menjadi Cahaya bagi sesama. Demikianlah intisari dalam film Laskar Pelangi.

Usai nonton bareng, dilanjutkan pembagian buku kepada pelajar untuk meningkatkan budaya membaca usia dini. Saudara Dio, mewakili Mahasiswa KKN secara simbolis menyerahkan buku kepada pelajar Desa Sikka yang diwakili oleh Stenly , siswa kelas 6 SD. Ia bersama pelajar lainnya bangga bisa mendapatkan buku gratis dari Kakak Mahasiswa UNIPA. Stenly dan teman – teman berjanji akan terus sekolah sampai Kuliah. Disela – sela rangkaian acara tersebut, orangtua salah seorang pelajar yang enggan disebutkan namanya menyampaikan ucapan rasa terimakasih dalam bahasa Sikka ” epang gawang Mahasiswa”.

Catatan Harian,

By : Ama Laga,

Sikka, 29 Mei 2019

Pagar Bambu, Wujud Kearifan Lokal ( KKN MM UNIPA – MAUMERE TAHUN 2019)

Bambu, tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya dengan pertumbuhan lumayan cepat. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Merupakan material bangunan yang menjadi idola baru terkhusus desain arsitektural. Karena selain cara pengerjaan yang mudah, bahan baku relatif gampang ditemukan serta kemampuannya yang tahan lama, estetika bambu yang menarik juga dapat mengangkat kembali kearifan lokal . Saat ini sudah mulai banyak desain minimalis dan modern dengan menggunakan bambu sehingga hunian terlihat indah dan kekinian.

Bambu banyak digunakan untuk dinding rumah dalam bentuk halar. Kursi, meja, hiasan dinding dan masih banyak aksesoris lainnya. Kota Maumere saat ini lagi trend akan cafe kopi, yang konstruksi bangunanya dari bambu, baik tiang, dinding, meja, kursi semuanya dari bilahan bambu.
Selain kegunaan bambu untuk konstruksi suatu bangunan, bilahan bambu juga banyak digunakan orang sebagai pagar halaman rumah, Kantor, sekolah dan bangunan hunian lainya, termasuk halaman Kantor Desa.

Kantor Desa sikka berada pada lahan dengan luas sekitar 500 meter persegi. Lahan yang digunakan sebagai halaman kira – kira 200 meter persegi. Pada halaman depan dibangun lapangan bolla volly, langsung berbatasan dengan saluran Drainase jalan. Diantara saluran drainase dan lapangan bolla volly ada ruang kosong semeter. Ruang inilah dibangun pagar dari bilahan bambu.
Sebelum memulai pekerjaan pagar bambu, terlebih dahulu mempersiapkan peralatan yang digunakan dalam proses pengerjaan. Gergaji, meter, tali tambang, palu, paku ( 5, 7 & 10 cm. Setelah peralatan selesai dipersiapkan, dilanjutkan pada proses pengerjaan sesuai dengan keterampilan atau skill yang dimiliki.

Pagar bambu yang dibangun tersebut sepanjang 20 meter menggunakan tiang dari kayu damar. Jumlah tiang yang dipakai sesuai dengan panjang pagar, yakni 21 batang(tiang). Jarak antar tiang ialah 1 meter. Panjang tiang 150 cm dengan lobang galian 30 cm. Maka dapat disimpulkan tinggi pagar diatas permukaan tanah ialah 120 cm.

Pada tahap terakhir, tergantung pada pilihan saja. Dapat melakukan polesan terakhir dengan memberikan warna yang diinginkan, sehingga tampilannya semakin menarik. Atau, jika ingin tetap mempertahankan corak alamiah yang ada pada bambu, mungkin menggunakan plitur kayu sehingga corak kayu tetap terlihat dengan apik nan indah dan elok dipandang.

Catatan Harian,

By : Ama Laga,

Sikka, 29 Mei 2019

Secangkir Kopi di “Bata Hogor”

Ket Foto : Senja di Bata Hogor

Sejenak merenung nilai perjuangan yang terkadang dilupakan oleh si Penerus. Pewaris tidak pernah berpikir kalau sewaktu – waktu warisanya akan diterjang badai globalisasi zaman, atau istilah yang sering dipakai “zaman now”. Tidak bermaksud mengkapitalisasi diri sang pewaris, wujud nyata akan jiwa heroik perlu di Implementasikan sang penerus. Nilai Toleransi, gotong – royong, keadilan, dan kerakyatan perlu dipertahankan. Nilai ini mutlak bagi setiap manusia meski beda zaman. “Zaman berubah dan kitapun turut berubah didalamnya”. Tapi bukan untuk Nilai kemanusiaan. Nilai kebebasan berekspresi dikibarkan seturut perintah Undang – Undang, bebas menyampaikan pendapat didepan umum. Kebebasan bukan berarti leluasa memainkan ide yang kerap kali bablas, menyebar hoax, menjual isu provokatif, ujaran – ujaran kebencian, praktif prostitusi online dan masih banyak deretan degradasi moral menghiasi beranda layar kaca. Sang penguasa dengan leluasa memainkan peran, korupsi pada setiap instansi yang membudaya di Rahim Ibu Pertiwi. Hotel layak huni – hotel Pordeo menjadi hunian kekal bagi sang koruptor yang selalu tersenyum di kursi pesakitan, menanti upah ketukan Palu.

Kebebasan yang bablas sedang dimainkan pemuda sebagai aktor utama.Yang katanya seturut kehendak “Zaman Now”. Eksplorasi diri jadi tayangan tayangan utama dengan durasi 30 detik. Ruang – ruang publik menjadi konsumsi khalayak ramai, bablas dalam membedakan ruang privat dan ruang publik. Terpuaskan akan euforia dengan predikat Netizen. Migrasi status dari warga penduduk ( WP ) ke warganet ( WN ) hanya bermodalkan Android dengan kemudi jempolan jari. Persentase aktivitas pasca migrasi 90% WN : 10 WP, ibarat gelombang pantai utara versus selatan.

………………………………………….

Pantai selatan sore itu…! Secangkir kopi disuguhkan sahabat saya, dibawah atap alang – alang yang dirancang berbentuk parabola. Terhanyut dalam permenungan bersama Bata Hogor. Sambil meneguk kopi hitam sedikit manis, pahit diujung lidah, kami melanjutkan cerita V nilai menyongsong hari lahirnya Pancasila 1 Juni. “Implementasi Nilai – nilai Pancasila menunjukkan pada titik kelemahan. Terbawa gelombang ” Jaman Now”. Membunuh karakter bangsa jika tak sanggup melawan gelombang. Pasang surut nilai kemanusiaan menjadi hiasan etalase. Mengejar jumlah like dan komentar pada kolom beranda, popularitas jadi tema utama dengan berbagai mode fashion show. Lupa akan segala nilai Kemanusiaan yang beradab. Kebiadaban ditunjukkan dengan praktik perdagangan orang, menjual manusia untuk dijadikan tumbal sang majikan. Peti mati siap mendarat bebas dibandara, lalu mulai disebarkan via media online. Lagi – lagi jadi topik utama Netizen kalangan muda, hanya mampu share tanpa membaca isi, apa penyebabnya. Generasi klik kian membabi buta menggerakkan jari jempolnya dengan kepala sedikit tunduk biar terlihat serius, dahi sedikit berkerut. Gelarpun diraih dengan sebutan ” Generasi Tunduk”. Mengejar gelar ala Netizen, lantaran siapakah yang memberikan gelar tersebut!!!

Akhir cerita, menutup obrolan, alam berpesan, Keluhuran Nilai – Nilai Pancasila diwujudnyatakan dalam Karya Nyata. Jadilah Generasi Mileneal Yang Beradab, senantiasa menjaga Nilai – Nilai luhur Pancasila sampai Pada Rumah Keabadian Yang Kekal.

“Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2019”.

Mari! kita habiskan kopi teman. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 Wita. Se- jam lagi lonceng Gereja dibunyikan.

NB : Bata Hogor ialah Nama Lepo di Desa Sikka, dengan view laut dan Bukit. Indah sekali lho…kalau ke Desa Sikka, jangan lupa Mampir ya…!

Salam…By Ama Laga, Sikka 28 Mei 2019.
(Catatan Harian)

Moad Tamela : ” “Terimakasih Mahasiswa KKN UNIPA”

Moad Tamela, Selaku Pemateri tunggal menyampaikan rasa Terimakasih kepada Mahasiswa KKN – MM UNIPA Tahun 2019 yang sudi mendengarkan cerita tentang masuknya Iman Katolik di Desa Sikka. Deretan nama – nama Tokoh Sikka turut mengambil peran dalam mengisahkan tentang Desa Sikka, pungkas Moad Gregorius Tomela.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Sikka sekaligus membuka kegiatan di Aula kantor Desa Sikka. Beliau menegaskan Kepada Mahasiswa agar senantiasa mencintai sejarah. Tingkatkan kedisiplinan dalam diri dan senantiasa mengabdikan diri kepada masyarakat.

Mahasiswa KKN – UNIPA Maumere terkesima dalam mengikuti kisah sang Tokoh Desa Sikka tersebut. Berjumlah 31 orang dengan berjaskan orange, Mahasiswa tampak antusias dalam menyimak Cerita tersebut. Dipenghujung kegiatan, berbagai pertanyaan diajukkan Mahasiswa kepada Pemateri.

Cataran Harian : Sikka, 27 Mey.

Selamat Datang, Selamat Jalan

Kala Berdiam Diri di Desa Sikka nan indah, Coba-Coba Merangkai Serpihan Kisah Yang Tercecer,
………………………………
Bangkitkan Imajinasi Seiring Terpaan Deru Gelombang, Menerpa dan Membangunkan Urat Saraf
………………………………
Lotot Mata Tajam, Tikam Kepala , Jemari Bergerak Pada Layar, Huruf Merangkai Kata, Tali – temali Kata Ikat Kalimat, Laksana Tenun Ikat Samping Gereja Tua,
…………………………………..
Di ujung Sana Tegap Berdiri, Menyambut Barisan Academia, Mahasiswa Namanya, Dengan Lembut Dikau Menyapa, Selamat Datang, Welcome
…………………………………….
28 Hari Berjibaku Bersama Sang Waktu, Dari Dusun ke Dusun, Menghiasi Sudut – Sudut Jalan Berjas Orange , Laksanakan Tugas Nan Mulia, Nusa Nipa Kampus Kita, Di Kampung Sikka, Desa Sikka
………………………………..
Waktu Terus Bergulir, Melewatkan Cerita Di gubuk – gubuk Indah, Canda,Tawa, Petuah Pun Tertanam Selalu,Oleh-oleh, Oleh Orangtua Asu, Anakku, Asah,Raih Citamu Asalkan Jangan Surut
…………………………………..
Jabat, Genggam Erat, Biar Terbekas Pada Catatan – Catatan Rindu, Jikalau Merindu, Lihatlah Telapak Tangan, Tak Lekang Oleh Waktu
……………………………………..
Kini, Senja Telah Tiba, Tak Ada Lagi Tawa, Canda, Manja, Tak ada Lagi Bunyi Lonceng Menyapa Daun Telinga Dikala Pagi dan Senja, Tak Ada Lagi Nyanyian Minggu Pagi, Telah Terseret Gelombang , 3 Juni, Menuntun Jalan Pulang
………………………………….
Sujud Terimakasih Terucap, Menaungi Dengan Restu Sang Empunya, Diapiti Barisan Bukit dan Laut, Rasa – rasanya Berat Melangkah Pulang, Terpatri Erat Pada Nadi
……………………………………..
Khilaf Melukai Hati, Bibir Berujar, Tak Sanggup, Tak Berdaya, Terimalah Kata Maaf, Ampunkan Kami Anak – anak – Mu, Ringankan Langkah Kami
…………………………………….
Biar Di ujung Sana Kami Tak Terantuk, Menerima Salam, “Selamat Jalan” Ditemani Senja Gua Bukit Fatima !!!

By : Ama Laga, Sikka(Desa) 25 Mey 2019.

” Senja Berpamit di Gua Fatima”

*…

Kala Berdiam Diri di Desa Sikka Nan Indah, Coba – Coba Merangkai Kisah,
Membangkitkan Imajinasi Bersama Pecahan Gelombang Kian Menderu, Menerpa dan Membangunkan Urat Saraf…

Lototan Mata Kian Tajam, Tikam Kepala Tanam Pantat, Jari-jemari Bergerak Pada Layar,
Huruf Merangkai Kata, Tali – temali Kata Ikat Kalimat, Deretan Kalimat Paragraf Hasilnya Seirama tenun ikat samping Gereja Tua…….

**…

Langkah tak henti kala menuju Wukur Diapiti Tebing dan Laut, Kiri dan Kanan, Jembatan Alam Menyapa Dikala Jalan Pulang Rupanya Sedang Mesra Bersama Hempasan Sang Gelombang Sejenak Menemani, Lepas Lelah Menuju Jalan Pulang…

Sang Surya Mulai Condong Ke Barat, Merayu – rayu…Malu – malu Senja Mulai Lenyap Ditelan Awan, Terusir Bunyi Lonceng Jam Enam Sore Sebelum Berpamit Pada Gua Bukit Fatimah…

Panjatkan Doa Pada Sang Khalik

Human Selling Humans In Nusa Tenggara Timur

Article by : Ama Laga

What is Human Trafficking

Human trafficking is an incredible organized crime. The Human Rights Protocol of the United Nations, article 3, cites Human trafficking including any act of recruitment, transportation, transfer, acceptance, sale or purchase of humanity through coercion, fraud, lies or practice with the aim of placing the victim in forced labor, a practice that resembles slavery or slavery. The condition of crime occurs when the worker (victim) is obtained by physical or non-physical force, extortion, lies, threats or use of physical violence and psychological pressure.

This is happening in Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia and its has been rooted. One of the causes is the poor NTT community (Pos-Kangang.com, Wednesday, January 4, 2017; ” BPS: NTT Province of the poorest third rank in Indonesia”). Poverty in NTT is one of the causes that encourage people to migrate (migration) in order to get out of the boundaries of all the limitations of life. Thus, Human Trafficking Practices in NTT were born as a consequence of poverty. The impact of poverty is very influential in social life. Today’s reality is of great concern, that the consequence of poverty puts NTT Communities as trapped in bullying and exploitative of Human Trafficking practices. The NTT community became an easy target as a victim to be brought abroad.

In addition to the poverty factor, lack of access to education contributes to the raising of this crime victims. NTT residents are illegally recruited as migrant workers because they have no understanding of the negative impacts or risks. Completed SDs or not been to school which makes the locals easily deceived and easily fall prey to human trafficking. The migrants easily mislead by the false promises of getting a good job and high salaries. In fact it is a highly organized fraud.

The impact of Human Trafficking on this day causes deep sorrow. The real impact of the victims is mental disorders caused by acts of violence that lead to loss of life. (Vox NTT.Com, October 5, 2017; ” 2017 Recorded 137 Human Trafficking Case In NTT ”). One of them is the Case of ” Adelina Sau ” (TEMPO.CO, Thursday, March 8, 2018; ” Families: ” Dead TKI in Malaysia, Adelina Sau, Lost since 2015 ”). In this case, Adelina Sau was treated with inhuman treatment by the employer, even until death. Again, and again, life is the price to pay for the abomination of the Employer.

Adelina Sau’s mother is in tears receiving her daughter in coffin

This situation needs serious attention from the NTT Provincial Government, as NTT currently receives the Poor Provincial Label. Human Trafficking is more common in relatively poor communities.

Dipublikasikan IMCS PAX ROMANA – ASIA PASIFIC ( IMCSAP ) Pada 17 Maret 2018 dengan judul Artikel :

Human Selling Humans In Nusa Tenggara Timur | Pax Romana IMCS AP http://imcsap.org/index.php/2018/03/17/human-selling-humans-in-ntt/