“PAGI DAN PETANG MENYAPA”

Yang terletak disisi kiri dan Kanan, berdiri tegap Kaku siap menyambut Setiap orang yang hendak memasuki Desa. Seolah – olah terlihat malu ketika sang surya perlahan – lahan memancarkan sinarnya. Begitupun ketika meninggalkan senja. Rupa – rupanya rasa malu karena jauh dari sentuhan jari – jari sang “Pencipta”. Tak sempurna lagi seperti sedia kala. Mulai pudar dan Pucat, butuh dandanan dan polesan agar tak terlihat malu – malu ketika pagi dan petang Menyapa. Hanya membisu tak berdaya, sang suryapun menyapa agar sang pencipta beranjak pergi menemui diujung Desa.
Ketika memasuki Desa Sikka, terlihat tulisan ” Selamat Datang “. Tulisan ini kebanyakkan terpisah oleh jalan, (jalan Negara, Provinsi atau Desa) apabila ada dua buah bangunan yang dibangun pada kedua sisi jalan, antara kiri – kanan, timur – barat, ataupun utara selatan tergantung pada cara pandang. Posisinya selalu tegak lurus terhadap jalan. Bangunan yang dimaksudkan tersebut ialah ” Gapura”. Gapura merupakan wujud ungkapan selamat datang ” welcome”. Ini mewakili keramahan dan rasa hormat tuan rumah kepada setiap orang atau tamu yang datang. Dalam membangun sebuah Gapura, pada tentunya memperlihatkan icon daerah tersebut, seperti Gapura Desa Sikka dengan bentuk menyerupai Gereja Tua Sikka. Gapura ini diberi warna menggunakan cat dengan beberapa jenis warna. Pengaruh suhu udara, uapa air laut, panas matahari, warna Gapura tersebut mulai pudar.
Kegiatan pengecatan gapura ini adalah salah satu bentuk pengabdian selama KKN kepada Desa Sikka dalam segi mengimplementasikan ilmu masing-masing yang telah didapat selama dibangku kuliah. Atas inisiatif kelompok muda – mudi, yang berasal dari Kampus Universitas Nusa Nipa – Maumere menyepakati untuk melakukan pengecatan. Kelompok tersebut ialah Mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata – Mahasiswa Mandiri ( KKN – MM ) di Desa Sikka, Kecamatan Lela – Kabupaten Sikka selama sebulan. Jadi tujuan pokok dari pengecatan adalah untuk melindungi Gapura terhadap kerusakan dari elemen luar. Cat member warna dan kilapan (gloss) pada Gapura dan meningkatkan efek estetikanya, yang selanjutnya mempengaruhi daya tarik dari suatu benda. ” Agar Gapura tidak Malu – Malu lagi terhadap Sang Surya”

By : Ama Laga

150 KUBIK KAYU DARI KOTA MALANG

Dalam Buku Kronik(catatan harian Belanda) yang diterjemankan Oleh Pater Nicolaus Beyer SVD dan Pater Richardus- Niuwndijk SVD, bahwa kebutuhan Kayu Untuk Pembangunan Gereja Sikka St. Ignatius Loyola ialah sebanyak 150 kubik.
Kayu tersebut didatangkan dalam dua tahap, I :120 kubik. Pada tahap II menggunakan kapal Tambora. Kayu tersebut ialah Kayu Jati yang didatangkan dari Malang.
(Catatan Harian, Gereja Tua Sikka St.Ignatius Loyola)

Tie Your Heart With Tie Weaving

Between the trees, a collection of mothers – Mother very carefully spinning white cotton using a spinner. The tool is called Jata. Cotton that has been separated from the seeds by using traditional tools (Ngeung) is then spun before entering the weaving process. Before heading to the weaving process, fabric dye material is prepared first according to the motif. These coloring materials come from nature. There are Nila Leaves (for blue), Noni roots (red) and many natural dyes provided by nature. In order to obtain satisfactory results, it must be formulated in such a way according to the dosage.
This activity was carried out by mothers from Monday to Saturday. This activity was carried out in groups from three hamlets, namely Sikka Hamlet, Wukur and Bidara. The ikat weaving group is divided into 15 groups. The origin of this group is the initiative of the Local Village Government about 5 years ago, with the aim of facilitating the marketing process.
Bonded fabrics that are ready for sale are displayed directly on the location (weaving place). The weaving location is right next to the Old Sikka Church. For visitors to the Old Sikka Church, both tourist destinations and pilgrimages usually visit the weaving place. Most visitors are Non-Domestic average. Visitors usually fall in love with Sikka woven cloth because of the motif that is very attractive. Before buying, the visitors usually pay close attention, starting from the tools used to the weaving process. Well, that’s when the visitors usually fall in love and are bound to Sikka Weaving Fabric.

Ikatkan Hati Bersama Tenun Ikat ( Kain Tenun Ikat Desa Sikka )

Ket Foto : Ngeung

Disela – sela pepohonan, terihat kumpulan Ibu – Ibu dengan sangat teliti memintal kapas – kapas putih dengan menggunakan alat pemintal. Alat tersebut bernama Jata. Kapas yang sudah dipisahkan dari biji dengan menggunakan Alat tradisional ( Ngeung ) untuk selanjutnya dipintal sebelum masuk pada proses penenunan. Sebelum menuju pada proses penenunan, terlebih dahulu disiapkan bahan – bahan pewarna kain sesuai dengan motif. Bahan – bahan pewarna tersebut berasal dari alam. Ada Daun Nila ( untuk warna biru ), akar mengkudu ( warna merah ) dan masih banyak pewarna alam yang disediakan alam. Agar memperoleh hasil yang memuaskan, maka harus diracik sedemikian rupa sesuai dengan takaran.
Aktivitas ini dilakukan oleh Ibu – Ibu dari hari senin – sabtu. Kegiatan inipun dilakukan dalam kelompok – kelompok yang dari tiga Dusun, yakni Dusun Sikka, Wukur dan Bidara. Kelompok tenun ikat ini terbagi dalam 15 kelompok. Cikal baka lahirnya kelompok ini adalah inisiatif dari Pemerintah Desa Setempat sekitar 5 tahun yang lalu, dengan tujuan memudahkan pada proses pemasaran.
Kain tenun ikat yang siap dijual, dipajang langsung pada lokasi ( tempat menenun ). Lokasi menenun tepat berada disamping Gereja Tua Sikka. Bagi para pengunjung Gereja Tua Sikka, baik tujuan wisata maupun Ziarah biasanya langsung berkunjung ketempat menenun. Kebanyakkan pengunjung rata – rata Non Domestik. Para pengunjung biasanya langsung Jatuh Hati terhadap kain tenun Sikka lantaran motif kain yang sangat memikat hati. Sebelum membeli biasanya si pengunjung memperhatikan secara saksama, mulai dari Alat – alat yang digunakan sampai pada proses menenun.Nah, disaat itulah para pengunjung biasanya jatuh hati dan terikat akan Kain Tenun Sikka.

Ket Foto : Jata

Ikatkan Hati Bersama Tenun Ikat ( Kain Tenun Ikat Desa Sikka )

Ket Foto : Ngeung

Disela – sela pepohonan, terihat kumpulan Ibu – Ibu dengan sangat teliti memintal kapas – kapas putih dengan menggunakan alat pemintal. Alat tersebut bernama Jata. Kapas yang sudah dipisahkan dari biji dengan menggunakan Alat tradisional ( Ngeung ) untuk selanjutnya dipintal sebelum masuk pada proses penenunan. Sebelum menuju pada proses penenunan, terlebih dahulu disiapkan bahan – bahan pewarna kain sesuai dengan motif. Bahan – bahan pewarna tersebut berasal dari alam. Ada Daun Nila ( untuk warna biru ), akar mengkudu ( warna merah ) dan masih banyak pewarna alam yang disediakan alam. Agar memperoleh hasil yang memuaskan, maka harus diracik sedemikian rupa sesuai dengan takaran.
Aktivitas ini dilakukan oleh Ibu – Ibu dari hari senin – sabtu. Kegiatan inipun dilakukan dalam kelompok – kelompok yang dari tiga Dusun, yakni Dusun Sikka, Wukur dan Bidara. Kelompok tenun ikat ini terbagi dalam 15 kelompok. Cikal baka lahirnya kelompok ini adalah inisiatif dari Pemerintah Desa Setempat sekitar 5 tahun yang lalu, dengan tujuan memudahkan pada proses pemasaran.
Kain tenun ikat yang siap dijual, dipajang langsung pada lokasi ( tempat menenun ). Lokasi menenun tepat berada disamping Gereja Tua Sikka. Bagi para pengunjung Gereja Tua Sikka, baik tujuan wisata maupun Ziarah biasanya langsung berkunjung ketempat menenun. Kebanyakkan pengunjung rata – rata Non Domestik. Para pengunjung biasanya langsung Jatuh Hati terhadap kain tenun Sikka lantaran motif kain yang sangat memikat hati. Sebelum membeli biasanya si pengunjung memperhatikan secara saksama, mulai dari Alat – alat yang digunakan sampai pada proses menenun.Nah, disaat itulah para pengunjung biasanya jatuh hati dan terikat akan Kain Tenun Sikka.

Ket Foto : Bahan Pewarna dari Alam

Oleh – Oleh Dari Sikka ( Jembatan Alam )

30 orang sahabat saya tampak kelelahan ketika melalui jalan yang penuh dengan tanjakkan dan berkelok – kelok. Satu persatu dengan gaya jalan yang berbeda berusaha semampu mungkin menembus jalan tersebut. Ada yang mencakar – cakar pinggangnya, saling berpegangan tangan, adapula yang sambil “Selfie” dengan latar belakang tebing berbatu dan laut dengan pecahan gelombang. Rupa – rupanya gaya jalan kami membunuh segala rasa lelah dan jarak. Alhasil tibalah kami ditempat tujuan, yakni Dusun Wukur.
Dusun Wukur adalah salah satu Dusun yang berada di Desa Sikka, Kecamatan Lela – Kabupaten Sikka. Tujuan kami ke Dusun tersebut ialah membawa misi Pengabdian kepada masyarakat. Misi tersebut dimandatkan Oleh Kampus Universitas Nusa Nipa Maumere kepada kami melalui KKN – MM 2019 ( Kuliah Kerja Nyata – Mahasiswa Mandiri ). Adapun kegiatan kami di Dusun tersebut ialah bersama petugas kesehatan setempat melakukan promosi pola hidup sehat. Kegiatan tersebut berjalan selama 3 jam lebih. Rangkaian kegiatan kami berakhir dengan sesi perkenalan dari masing – masing peserta KKN – MM 2019 dan Foto bersama ( “bukan selfie”) sekaligus mengiringi langkah kami menuju Dusun Sikka yang merupakan titik start kami. Dalam perjalan pulang tersebut rasa -rasanya ada hal yang menggantung dibenak kami. Menuntun kami untuk mengambil Handphone dari dalam Kantong Celana dan mengarahkan Handphone ke Arah Selatan. Ternyata tingginya tebing – tebing berbatu yang tersusun rapi menolak kami menuju pantai. Disanalah ada sahabat tebing berbatu, Yakni ” JEMBATAN ALAM “.
Tata letak Jembatan Alam tersebut dengan arah Timur – Barat. Bisa dikatakan tegak lurus terhadap arah gelombang. Jembatan alam tersebut panjangya sekitar 10 meter. Keunikkan dari Jembatan alam tersebut ialah semua elemen – elemen dari Jembatan tersebut ialah dari Batu dengan permukaan yang bergelombang. Gelombang – gelombang batu pada struktur Jembatan Alam setiap harinya ditemani oleh gulungan gelombang yang besar. Gelombang yang besar tersebut tak mengendurkan gelombang dalam hati kami untuk mengabadikan momen menggunakan Kamera Handphone. Usai mengabadikan Momen, kamipun melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Sikka membawa oleh – oleh dari Alam, ” Jembatan Alam ”
By : Ama Laga